Kesekian kalinya disebutkan; banyak sekali hal yang harus diberi hal pemakluman berbobot lebih.
Kadang, mau-tidakmau perasaan menerima hal yang berporsi kurang/tampak tidak sesuai dengan jentik desire adalah yg sering terjadi. Seperti kondisi, perasaan kagum yang harus (secara tidak ingin) dihilangkan karena bentuk lain dari perasaan tersebut ditolak oleh perasaan manusia lain yg belum/ bahkan tidak berikatan. & nampaknya selipan duka pasti ada, meskipun demikian, pada waktunya akan datang bentuk lain perasaan berupa penerimaan disertai amarah yg (menurut gua) adalah kurang berkualitas untuk dijadikan akar penghilangan. Dasarnya, manusia belajar menerima & bertahan untuk tidak membuat dirinya sendiri terhumiliasi oleh behavior milik yg lain. Sah untuk manusia lain melakukan temper tantrum tersebut karena seperti ini adalah bagian dari natural manner yg memang harus terjadi di proses belajar menjadi manusia yg diharuskan untuk maklum (kadang-kadang). Begitulah kadang;
Kadang, saat menginginkan keramaian, malahan harus diterima bahwa disini adanya berupa kesepian. Saat itu waktu kadang-kadang ini terjadi, maklum & bertahanlah sebagai manusia.
Kadang, saat menginginkan sesuatu yang bisa diraih (berupa cita-cita/attainment), malah adanya kekosongan yang bernama peak-load. Kembali lagi pemakluman terjadi.
Kadang, saat mengetahui bahwa sesuatu yg salah terjadi, malah kondisinya bukan taper off (karena sudah diraba letak salahnya), sebaliknya semakin memburuk & membuat kondisi kehilangan menjadi akarnya. Disanalah cabang-cabang penerimaan harus diletakkan.
Kadang, mencintai adalah hal yang indah, tapi perasaan ketidakadilan malah terjadi akibat banyaknya kecewa & sedih & duka sampai hal tersebut bukan indah lagi. Penerimaanlah yang (akhirnya) menjadi penyembuhan paling nyata.
Kadang, manusia harus sadar bahwa (kadang) kita bukanlah yang diinginkan manusia lain. Konfidensi sebaiknya diletakkan di waktu kadang-kadang saja ketika ada pengakuan tegas bahwa diri ini (benar-benar) diinginkan. Instinct above all else.
Semuanya akan (selalu) berkaitan dengan passion & joy & sacrifice setiap diri yg hidup.
Akarnya akan selalu berputar di ego & desire & akal.
Puncaknya akan menghasilkan keberhasilan atau ketidakadilan.
Bagi gua, semua akan kembali pada naungan masing-masing perasaan. Bebannya akan lunak ketika firman Tuhan mulai menjadi konsepsi beku untuk kehidupan. Menjadi naungan yang mutlak tidak dipatahkan.
Hari ini, setiap scene kondisi yg terjadi mulai tampak sama. Begitu riak bahagia & monoton berjalan setengah-setengah porsinya, terlalu kembar: hampa beda. Tanpa diberi kesempatan untuk menunjukan keunggulan masing-masing. Begitulah mulanya, penerimaan.
Kadang, cenderung mulai bosan
Lalu apa ? Semua tetap diterima, berjalan dengan pemakluman.
Terima (banyak) kasih.
